Home » Lesbian » Gairah Terlarang V

Gairah Terlarang V

Monday, March 18th 2013. | Lesbian

Dari bagian 4

Aku bangun dari pingsanku. Mbak Sari tidak berada di kamarnya yang telah gelap. Hanya sedikit cahaya lampu dari luar kamar. Dari sedikit cahaya itu kulihat jam dinding di kamar Mbak Sari. Jarum panjangnya menunjuk angka sebelas dan jarum pendeknya menunjuk angka delapan.

Aku berdiri dan keluar dari kamar Mbak Sari dengan masih telanjang. Vaginaku terasa sakit. Dildo merah hati berada di dalam vaginaku dan menggantung keluar. Entah apa yang dilakukan Mbak Sari ketika aku pingsan. Kukeluarkan dildo merah hati itu. Ingin kubalas perlakuan Mbak Sari terhadapku waktu aku pingsan tadi. Kudengar suara air dari kamar mandi bawah. Aku turun dan kubawa juga dildo merah itu.

Aku masuk ke kamar mandi berdinding dan berlantai keramik yang ada tubnya itu. Tub yang bisa muat untuk empat orang itu setengah terisi air. Kulihat Mbak Sari berdiri dalam tub dan sedang menyabuni tubuhnya yang sudah penuh dengan sabun. Mbak Sari menyelupkan kedua tangannya ke dalam air dan disiramkan ke tubuhku. Aku masuk ke dalam tub. Rasa balas dendamku hilang. Yang ada perasaan gairah yang mengebu-gebu. Kulepaskan dildo merah hati dan kurebut sabun dari tangan Mbak Sari.

Lalu kedua tanganku menyabuni kedua payudara Mbak Sari. Ketika itu aku hampir terpeleset dan berpegangan pada pinggang Mbak Sari. Mbak Sari lalu membalikkan tubuhku. Dari belakang Mbak Sari merebut kembali sabun dari tanganku dan disabuninya kedua payudaraku. Disabuninya juga seluruh tubuhku dari belakang. Diputar-putarnya kedua telapak tangannya ke kedua payudaraku.

“Aaahh..” Desahku.

Kupegang tangan kanannya dan kuremas-remas ke payudara kananku. Sedangkan tangan kiriku memegang tangan kiri Mbak Sari yang memegang sabun. Tangan kiri kami berdua saling meremas dan membuat sabun itu terjatuh ke dalam air. Kubimbing tangan kiri Mbak Sari untuk membelai vaginaku.

Mbak Sari malah mengocok vaginaku dengan jari tengah tangan kirinya sementara tangan kanannya masih meremas-remas payudara kananku dan lidahnya menjilati leherku. Tangan kiriku bergerak ke belakang dan meremas-remas pantat Mbak Sari.

Tidak lama aku dalam meremas-remas pantat Mbak Sari. Sampai Mbak Sari menempelkan tubuhnya ke punggungku dan agak mendorongnya ke depan. Selangkangannya menggesek pantatku. Leherku masih dijilatinya dengan lidahnya. Kudongakkan kepalaku ke belakang. Kocokan jari tengah tangan kirinya semakin liar. Kuremas-remas sendiri payudara kiriku dengan tangan kiriku sendiri.

“Aaahh..” Desahku.

Aku tidak tahan dengan perlakuan Mbak Sari. Aku melepaskan diri dari pelukannya. Tetapi Mbak Sari memegangi kedua kakiku. Dia duduk di belakangku dan kedua tangannya membelai kedua pahaku. Dijilatinya juga kedua pahaku dengan lidahnya. Aku agak maju ke depan. Kedua tanganku berpegangan pada dinding kamar mandi. Mbak Sari masih membelai kedua pahaku bahkan lidahnya menjilati pantatku. Kugesekkan kedua payudaraku pada dinding kamar mandi.

“Aaahh..” Desahku lagi.

Kubalikkan tubuhku dan duduk di tepi tub. Kukangkangkan kedua kakiku dengan harapan vaginaku yang sudah mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan dijilati Mbak Sari dengan lidahnya. Ternyata tidak. Mbak Sari memegang kaki kiriku dan dijilatinya jari-jari kakiku dengan lidahnya sambil kedua tangannya membelai kedua betisku.

Lidahnya semakin naik ke atas dan akhirnya menjilati vaginaku. Tangan kanannya meremas-remas kedua payudaraku bergantian. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas kedua payudaranya sendiri bergantian. Aku sendiri ingin meremas-remas kedua payudara Mbak Sari. Tetapi kedua tanganku kupakai buat bertumpu pada tepi tub.

“Aaahh..” Desahku.

Lidah Mbak Sari kembali menelusuri paha kananku. Ke bawah. Kebetis. Dan jari-jari kaki kananku dijilatinya dengan lidahnya. Kugeser tubuhku agar bisa bersandar pada dinding kamar mandi. Kedua tanganku bisa meremas-remas sendiri kedua payudaraku. Jempol kaki kanan Mbak Sari menggesek kelentitku. Sedangkan jempol kaki kirinya menari-nari di belahan kedua payudaraku.

“Aaahh..” Aku kembali mendesah.

Beberapa saat kemudian aku berdiri dan kukangkangkan kedua kakiku di depan Mbak Sari yang langsung menjilati cairan-cairan kenikmatan yang membasahi vaginaku dengan lidahnya. Kedua tangan Mbak Sari juga membelai kedua pahaku dan betisku. Kedua tanganku hanya bisa membelai dinding kamar mandi. Sesekali kugesekkan kedua payudaraku ke dinding kamar mandi.

“Aaahh..” Desahku.

Kuturunkan tubuhku dan telungkup di dalam air. Mbak Sari duduk di pojokan tub. Kedua kakinya dikangkangkan. Aku merangkak dan menjilati betis dan paha kanan Mbak Sari. Sedangkan tangan kanan Mbak Sari meremas-remas payudara kanannya sendiri dan tangan kirinya menyabuni punggungku.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Lalu kubalikkan tubuhku dan duduk di dalam air. Kujilati vagina Mbak Sari yang mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan dengan lidahku. Tangan kananku membelai betis kiri Mbak Sari dan tangan kiriku membelai vaginaku sendiri. Sedangkan tangan kanan Mbak Sari menyabuni kedua payudaranya bergantian dan tangan kirinya membelai paha kirinya sendiri.

“Aaahh..” Mbak Sari kembali mendesah.

Aku agak kaget ketika jempol kaki kiri Mbak Sari digesekkan ke kelentitku. Aku jadi semakin bersemangat dalam menjilati vagina Mbak Sari. Kedua tangan Mbak Sari membelai tubuhnya sendiri dan sesekali diremas-remasnya kedua payudaranya. Aku mengambil sabun dari tangan Mbak Sari dan kusabuni sendiri kedua payudaraku sampai berbusa.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari lagi.

Kemudian aku berhenti dalam menjilati vagina Mbak Sari dengan lidahku. Aku setengah berdiri dengan kedua kaki ke belakang. Kupeluk pinggang Mbak Sari yang kemudian juga setengah berdiri. Kutempelkan kedua payudara ke kedua payudara Mbak Sari. Kedua payudara kami yang penuh busa saling gesek. Kami bersama-sama mendesah.

“Aaahh..”

Kami berdua saling berjilatan lidah. Persetubuhan ini menjadi semakin panas. Jari tengah tangan kananku mengocok vagina Mbak Sari. Sedangkan vaginaku sendiri juga dikocok oleh Mbak Sari dengan jari tengah tangan kanannya. Sementara tangan kiri kami berdua saling meremas-remas kedua payudara yang masih tetap bergesekan.

Mbak Sari lalu mengangkat kedua kakinya dan berpijak pada tepi tub. Sedangkan kedua tangannya berpegangan pada tepi tub pada sisi yang lain. Kedua kakinya yang mengangkang membuatku mudah dalam menjilati vagina Mbak Sari yang banjir oleh cairan-cairan kenikmatan. Kedua tanganku juga meremas-remas pantatnya. Sesekali kuremas-remas kedua payudaranya yang menggantung diatasku.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Beberapa menit kemudian Mbak Sari turun ke bawah. Sekarang giliranku yang naik ke atas. Tapi aku hanya duduk. Aku tidak kuat untuk bertumpu dengan kedua kaki dan tangan. Mbak Sari tidak mau tahu. Langsung saja dijilatinya vaginaku dengan lidahnya. Kedua tangannya membelai tubuhku dari bawah ke atas terutama kedua payudaraku. Sesekali juga jari tengah tangan kanannya mengocok vaginaku.

“Aaahh..” Kali ini aku yang mendesah.

“Sar. San. Dimana kalian?”

Teriak Mamaku dari luar kamar mandi. Suaranya menjauh. Langkah sepatunya naik ke lantai atas. Hanya beberapa langkah lalu turun lagi. Kami berdua tetap asyik saja di dalam kamar mandi. Aku dan Mbak Sari duduk di dalam tub dan saling mencipratkan air yang sudah bercampur dengan sabun. Mbak Sari memegang selang shower dan disemprotkan ke arahku.

“Waah. Kalian ninggalin Mama ya.” Kata Mamaku yang rupanya telah berada di depan pintu kamar mandi.

Mamaku tengah melepas kancing bajunya. Mbak Sari menyemprotkan air ke arah Mamaku. Mamaku berusaha menghindar sambil tetap melepaskan semua pakaiannya. Mamaku lalu masuk ke dalam tub dan merebut selang dari tangan Mbak Sari. Disemprotnya payudara kanan Mbak Sari. Sedangkan tangan kiriku meremas-remas payudara kiri Mbak Sari sambil menjilati lehernya.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Kedua tangan Mbak Sari meremas-remas sendiri kedua payudaranya. Kujilati puting payudara kanan Mbak Sari dengan lidahku sambil tangan kananku membimbingnya untuk terlentang. Mamaku mematikan air selang dan meletakkan ketempatnya kembali. Lidahnya lalu menjilati leher Mbak Sari yang kemudian mengeluarkan lidahnya. Mamaku dan Mbak Sari saling berjilatan lidah.

Kemudian Mamaku menjilati puting payudara kiri Mbak Sari. Lidahnya bertemu dengan lidahku. Aku dan Mamaku saling berjilatan lidah. Sedangkan Mbak Sari berdiri dan akan meninggalkan tub. Kedua tanganku menahannya. Kupeluk tubuh Mbak Sari dari belakang sambil kedua tanganku membelai kedua pahanya. Kugesekkan kedua payudaraku ke pantat Mbak Sari. Sedangkan Mamaku dari belakangku menjilati punggungku dengan lidahnya.

Mbak Sari tidak kuat untuk berdiri. Dia lalu duduk di pojokan tub dan mengangkangkan kedua kakinya. Aku duduk di depan Mbak Sari dan kujilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari vaginanya dengan lidahku. Sementara Mamaku masih menjilati punggungku sambil tangan kanannya meremas-remas payudara kananku dan tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Mbak Sari.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Tubuh Mbak Sari merosot ke bawah. Aku berdiri dan kukangkangkan kedua kakiku. Mbak Sari langsung menjilati vaginaku dengan lidahnya. Sementara Mamaku keasyikan menjilati punggungku. Jari tengah tangan kanannya mengocok vaginaku. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas payudara kiriku.

“Aaahh..” Desahku.

Mamaku lalu menggesekkan kedua payudaranya ke pantatku. Aku masih berdiri dengan berpegangan pada dinding kamar mandi. Mbak Sari menghentikan menjilati vaginaku dengan lidahnya. Mbak Sari lalu berdiri di belakang Mamaku dan menggesekkan kedua payudaranya ke punggung Mamaku. Kami bertiga saling berlomba dalam mendesah.

“Aaahh..”

Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Sari meluncur turun ke dalam air. Mamaku lalu duduk dibawahku dan bersandar di tepi tub menghadap ke arah Mbak Sari. Dikangkangkannya kedua kakiku dan dijilatinya cairan-cairan kenikmatan yang semakin banyak keluar dari dalam vaginaku dengan lidahnya. Mbak Sari lalu duduk di pangkuan Mamaku. Kedua kakinya ditekuk dan menjepit pinggang Mamaku. Kedua payudaranya bergesekan dengan kedua payudara Mamaku.

Kali ini tubuhku meluncur turun ke dalam air. Mamaku dan Mbak Sari lalu berdiri dan saling membelai kedua payudara. Aku juga ikut berdiri. Mamaku menggeser tubuhnya agak menyamping dan tangan kanannya membelai pipiku. Sementara tangan kirinya membelai punggung Mbak Sari. Tangan kiri Mbak Sari juga membelai punggung Mamaku. Sedangkan tangan kanannya membelai payudara kanan Mamaku. Payudara kiri Mamaku sendiri menempel pada payudara kanan Mbak Sari.

“Hhhmm..” Desah Mamaku dan Mbak Sari.

Mamaku lalu menempelkan payudara kanannya ke payudara kiri Mbak Sari. Kedua payudara mereka berdua saling menggesek seiring dengan kedua lidah mereka yang saling berjilatan. Aku masih berdiri di belakang Mamaku dan menjilati telinga kanannya. Kedua payudaraku menggesek punggung Mamaku. Mamaku menolehkan kepalanya sehingga lidahnya menjilat lidahku. Sedangkan lidah Mbak Sari menjilati telingan kiri Mamaku.

Tanpa dikomando aku dan Mbak Sari bersamaan menurunkan jilatan lidah ke kedua payudara Mamaku. Aku menjilati puting payudara kanan Mamaku dan Mbak Sari menjilati puting payudara kiri Mamaku. Kami bertiga sama-sama juga pindah dan menurunkan pantat untuk duduk di lantai kamar mandi.

Mbak Sari masih menjilati puting payudara kiri Mamaku. Jari tengah tangan kirinya mengocok vagina Mamaku yang basah oleh cairan-cairan kenikmatan. Sedangkan aku kembali berjilatan lidah dengan Mamaku. Tangan kiriku merangkul leher Mamaku yang jatuh terlentang ke belakang. Payudara kiriku menempel ke payudara kanan Mamaku. Kedua tangan Mamaku juga aktif dalam membelai tubuhku dan juga tubuh Mbak Sari.

Jilatan lidah Mbak Sari turun ke bawah dan menjilati vagina Mamaku yang masih juga dikocoknya dengan jari tengah tangan kirinya. Sedangkan aku juga menurunkan jilatan lidahku ke puting payudara kanan Mamaku sambil tangan kananku meremas-remasnya. Sedangkan tangan kiriku mengambil dildo merah hati dan kugesekkan ke kedua payudaraku.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Kubungkam desahan Mamaku dengan mendudukinya. Vaginaku yang banyak mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan dijilatinya dengan lidahnya. Sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara kiriku. Kukulumkan dildo di tangan kiriku untuk membungkam jeritan-jeritan kenikmatan yang keluar dari mulutku. Mbak Sari masih menjilati vagina Mamaku dengan lidahnya sambil kedua tangannya meremas-remas kedua payudara Mamaku.

Aku turun dari kepala Mamaku dan duduk bersandar di dinding kamar mandi. Kumasukkan salah satu ujung dildo merah hati ke vaginaku. Mbak Sari menghampiriku dan duduk di depanku. Mbak Sari lalu memasukkan ujung dildo merah hati yang satunya ke vaginanya. Mamaku juga ikut duduk dan membenarkan posisi dildo merah hati yang masuk ke vaginaku dan vagina Mbak Sari.

Aku dan Mbak Sari tanpa dikomando saling dorong mendorong dildo merah hati tersebut. Kadang dildo merah hati itu masuk agak dalam ke dalam vaginaku. Kadang masuk agak dalam ke dalam vagina Mbak Sari. Mamaku hanya melihat aksi kami berdua dengan meremas-remas kedua payudaranya sendiri. Aku dan Mbak Sari juga meremas-remas sendiri kedua payudara.

“Aaahh..” Desah kami bertiga

Beberapa menit kemudian Mbak Sari mengeluarkan dildo merah hati dari dalam vaginanya. Cairan-cairan kenikmatan banyak keluar dari dalam vaginanya. Dikeluarkannya juga dildo merah hati dari dalam vaginaku yang juga mengeluarkan banyak cairan-cairan kenikmatan. Mbak Sari lalu menyilangkan kedua kakinya dengan kedua kakiku. Kelentit kami berdua saling menempel. Kuikuti goyangan tubuh Mbak Sari sehingga kedua kelentit kami saling bergesekan. Sedangkan Mamaku mengambil dildo merah hati. Setelah dikulumnya beberapa saat lalu dikocokkan ke dalam vaginanya. Kami bertiga secara serentak menjerit panjang.

“Aaahh.. Aaahh.. Aaahh..”

Incoming search terms:

  • pantat banyak air