Home » Daun Muda » Kenangan Indah V

Kenangan Indah V

Tuesday, October 2nd 2012. | Daun Muda

Kugetarkan kembali tanganku agak kencang pada sepasang payudaranya yang sensitif itu dan “Aaahh..” Sonya mendesah. Apa yang kulakukan ternyata membuatnya terangsang hebat, begitu hebatnya sampai-sampai ia melepaskan hisapannya pada lidahku dan agak memundurkan payudaranya sedikit ke belakang agar terlepas dari getaran mautku. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, segera kubuka daster tipis Sonya dan menyisakan CD putihnya, sehingga seolah masih menyimpan misteri yang membuatku menjadi selalu penasaran, lalu kugendong dia ke atas tempat tidurku sambil memberinya french kiss.

 

Tangan kananku pun sibuk mengusapi perutnya lalu turun ke bagian paha dalamnya dan naik lagi ke perutnya sambil sesekali membelai payudaranya yang sensitif itu. Rangsangan tanganku kini mulai kufokuskan, kuelus puncak bukit payudara kanannya dengan telunjukku sementara keempat jari lainnya memijat-mijat badan bukitnya yang secara utuh telah berada di bawah telapak tanganku. Perlahan tanganku menggetarkan bukit payudaranya lalu kupercepat intensitas getarannya, hal ini membuat Sonya kembali tidak dapat mengontrol dirinya. Rangkulan tangannya pada leherku menjadi sedemikian eratnya, begitu pula hisapannya pada lidahku yang seolah-olah ingin menelan seluruh cairan tubuhku sampai tak bersisa. Hangat nafasnya yang terengah-engah pun menerpa wajahku dan menambah sexy suasana.

 

Akhirnya Sonya menekan dadanya ke bawah agar payudaranya bisa terlepas dari getaran tanganku. Hisapan dan rangkulannya jadi agak mengendor, saat itu aku yakin Sonya berusaha curi nafas, tapi aku tidak mau membiarkan nafsunya turun begitu saja, lalu dengan cepat aku segera menggeser ciuman dan jilatanku ke leher kemudian menuju bukit payudara kirinya. Kuhisap dengan cepat puncaknya yang berwarna coklat muda yang indah memberikan gradasi warna yang kontras sempurna dengan kulitnya yang putih.

“Aaahh.. abaanghh.. hh.. hh.. sshh.. Sonya ngga kuat baang.. mo pipiissh..” Sonya kembali mendesah.

 

Aku bisa merasakannya, tentu saja dia langsung menyerah, sebab begitu mulutku mendapatkan putingnya langsung kuhisap dan kujilati puncak bukit payudara kirinya itu, tanganku pun langsung mengejar dan kembali menggetarkan payudara kanannya yang agak terlepas tadi.

“Abaanghh.. sshh.. aahh..” tubuh Sonya menggelinjang-gelinjang kenikmatan.

Ia juga mulai mengangkat pinggulnya yang berarti ia mau menyerah sekarang. Melihat hal itu aku segera bergerak cepat, menghentikan hisapanku lalu berpindah menuju selangkangannya. Kedua tanganku dengan sigap lalu membuka kedua pahanya lebar-lebar lalu kupinggirkan bagian celana dalamnya yang sudah basah dan masih menutupi vaginanya karena aku tidak punya waktu lagi untuk melepaskannya.

 

Sekarang aku bisa melihat cairan kenikmatan yang meleleh keluar dari daerah keperawanan Sonya. Aku segera menjilat dan menghisapnya sementara jariku masih menahan bagian CDnya yang tadi kupinggirkan agar tidak lagi mengganggu. Sonya segera mencengkram rambutku dengan kedua tangannya dan menekannya lebih dalam sementara paha kiri dan kanannya menjepit kepalaku dengan kuat.

“Abaanghh.. sshh.. aahh.. Sonya keluar.. baanghh..” teriaknya.

Tubuh Sonya yang sexy itu kini tersentak-sentak, sementara aku berusaha meredam gerakan liarnya agar rangsangan dan hisapanku tidak terlepas dari vaginanya.

“Aaahh..” Seiring dengan desahan itu, meluncurlah cairan orgasmenya yang hangat dan nikmat, langsung kusambut dengan hisapan mulutku. Tekanan tangan dan jepitan pahanya kini sudah lepas, Sonya sudah tenang kembali tapi masih terlihat lemas, segera kubuka celana dalam putihnya yang menggangguku tadi.

 

Kini Sonya benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang. Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yang benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yang kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Sonya ke bawah ketika tiba-tiba..

 

Kini Sonya benar-benar telanjang bulat di hadapanku. Tubuhnya yang putih mulus itu terlihat mengkilap oleh keringat, matanya sayu menatapku dan ia mencoba untuk tersenyum. Aku tersenyum padanya dan mulai menjilati kembali daerah kewanitaannya yang kini sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus walaupun masih jarang. Sebenarnya, aku kurang suka melihatnya karena favoritku adalah daerah kewanitaan yang benar-benar bersih tanpa bulu, tapi daripada mengeluh, lebih baik aku mensyukuri apa yang kumiliki. Aku mulai menjilati bibir vertikal dan bulu-bulu halusnya, sementara tangan kiriku berusaha menjatuhkan CD Sonya ke bawah ketika tiba-tiba..

 

Celana dalam Sonya yang kupegang tadi tiba-tiba ditarik oleh seseorang yang tidak kami sadari keberadaannya sedari tadi. Aku sangat-sangat terkejut sampai-sampai aku terduduk tegak menghadap ke arah Sonya yang masih terlihat lemas. Aku tidak berani menoleh dan kurasa wajahku menjadi pucat.

“Iiih abang, ini khan celana dalam Kak Sonya jangan dilempar-lempar doong! lho, kok basah sih celananya? Emangnya abang sama Kak Sonya lagi ngapain sih? Kok Kak Sonya telanjang?” pertanyaan beruntun yang dilontarkan oleh suara mungil yang sangat kukenal baik.. ya, itu suara Tia..

Betapa cerobohnya aku sampai-sampai lupa mengunci kamar. Aku berusaha keras mengingat-ingat apa yang terjadi, mengapa Tia bisa lolos sampai di sini? Seharusnya dia khan sudah bobo..

 

Wuaahh.. kini aku ingat.. ini semua gara-gara telpon sialan itu yang membuat kami lupa untuk menidurkan Tia. Rupanya ia masih menonton TV saat kami bercinta di sini. Tia lalu mendekati Sonya dan memberikan celana dalamnya yang ia ambil dari tanganku tadi. Sonya tidak tampak terkejut saat melihat Tia dan itu membuatku sedikit merasa tenang.

Sonya merangkul Tia dan berkata dengan lembut, “abang tadi sedang mengajarkan sesuatu yang pernah Kak Sonya ceritakan sama Tia, masih ingat khan?” tanya Sonya.

“Yang ngga boleh bilang papa mama itu khan? Iya kak, Tia masih ingat” jawab Tia.

Sonya tersenyum senang “Tia mau khan diajarin juga sama abang dan Kak Sonya?” lanjut Sonya.

“Tapi tadi Kak Sonya diapain sih sama abang, kok sampe teriak-teriak, Tia khan jadi takut” raut wajah Tia jadi agak berubah.

Sonya memeluk Tia dan membelai punggungnya seraya berkata, “abang tadi membuat Kak Sonya kegelian.. enaak sekali, saking enaknya Kak Sonya ngga sadar kalo teriak, naah kalo Tia mau diajarin sama Kak Sonya dan abang, Tia harus selalu menepati janjinya ya!” bujuk Sonya.

“Iya kak, Tia janji ngga akan bilang papa mama dan mau nurut sama abang dan Kak Sonya” janji Tia.

Sonya tersenyum mendengarnya lalu menyodorkan kelingkingnya ke arah Tia sambil berkata, “janji yaa!” Tia pun lalu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Sonya tanda ia berjanji.

 

Perasaanku menjadi tenang kembali melihat kakak beradik yang cantik itu rukun dan akur. “Nah, Tia sudah berjanji sama Kak Sonya, sekarang Tia harus berjanji juga dong sama abang!” perintahku. Tia lalu berjalan mengitari tempat tidur ke arahku sambil menyodorkan kelingkingnya untuk mengikat janji denganku. Aku melihat wajahnya yang begitu polos, begitu murni membuat perasaan sayangku padanya meluap-luap. Manusia macam apa yang akan tega menyakitinya??

 

Aku segera mengangkatnya dan mendudukkannya di atas perutku lalu berkata, “Iya Tia sayaang, abang percaya sama Tia, Tia khan anak cantik yang baik.. cup kataku sambil mengecup keningnya.

“Nah, sekarang abang akan memperlihatkan bagaimana caranya memberikan oral seks kepada Kak Sonya, Tia perhatikan baik-baik!” kataku sambil tersenyum padanya.

Baru saja aku mau bergerak ke arah Sonya, tiba-tiba Sonya duduk dan berkata, “tidak adil dong Bang kalau begitu, sekarang giliran abang yang Sonya kasih “os”!” katanya sambil bergerak ke arahku. Terus terang saja, aku terkejut mendengarnya sampai jadi salah tingkah, ternyata Sonya bukan hanya seorang anak cantik dan cerdas tetapi juga penuh pengertian. Sebenarnya aku agak malu mempertontonkan batangku di depan kedua godiva kecilku ini, tapi apa boleh buat..

 

Aku segera melucuti pakaianku di depan kedua goddess mungilku sesuai dengan permintaan Sonya. Mungkin karena aku merasa agak malu sehingga batangku yang tadinya begitu tegang, menjadi kembali agak tertidur.Dengan telanjang bulat, aku segera menaiki tempat tidur lalu mengatur posisi Tia agar dia bisa memperhatikan dengan jelas apa yang akan Sonya lakukan. Tia masih tetap duduk di atas perutku tapi menghadap ke arah Sonya sehingga aku juga dapat memeluknya dari belakang, sementara Sonya sudah siap berhadapan dengan batangku.

“Tia, perhatikan Kak Sonya yaa!” kata Sonya pada Tia yang mulai memperhatikan ulah kakaknya itu dengan seksama. Sonya mulai mengecup dan menjilati batangku dari kepala hingga pangkal, buah zakar, dan tak lama kemudian batangku mulai bangun lagi.

“Iiih.. burungnya abang berdiri!” tiba-tiba Tia berteriak.

“Iya Tia, itu artinya abang sayang sama Kak Sonya” jawab Sonya menjelaskan.

Aku tersenyum lalu menambahkan, “abang sayang sama Sonya juga sama Tia” tambahku sambil mencium pipi Tia dari belakang.

 

Sonya lalu mulai memasukkan bagian kepala batangku ke dalam mulutnya lalu menguncinya dengan bibir dan lidahnya, kemudian dengan hati-hati agar tidak terkena giginya meluncur turun menuju pangkal batang sehingga hampir seluruhnya berada di dalam mulutnya selama beberapa saat, baru naik lagi ke bagian kepala.

“Aaah..” aku mulai menggeliat keenakan. Tia yang berada dalam pelukanku, kini menjadi sasaran kegiatanku, tapi aku tidak berusaha merangsangnya agar perhatiannya tetap fokus pada Sonya. Aku hanya memeluknya dari belakang dengan penuh kehangatan dan mencium wangi rambut dan tubuhnya sebagai penambah stamina, yang juga merupakan aroma terapi bagiku agar mampu bertahan lebih lama menghadapi rangsangan blow job yang Sonya berikan.

 

Semakin nafsuku menggelegak naik, semakin aku menarik nafas dalam-dalam dengan perlahan, menikmati aroma harumnya tubuh dan rambut Tia. Suatu hal yang menarik bagiku adalah, jika seorang gadis cantik selalu rajin menjaga kebersihan tubuhnya dengan mandi secara teratur dan menggunakan sabun yang sesuai dengan kulitnya, bukan dengan memakai parfum banyak-banyak, maka ia akan terlihat selalu segar, awet muda dan selalu akan menebarkan aroma wangi yang bersih. Hal itu akan menjadi suatu ciri khas bagaikan sidik jari pada setiap orang.

“Ssshh.. aahh..” aku kembali mendesah. Hisapan dan gerakan Sonya yang semakin cepat membuat konsentrasiku buyar. Rasa geli dan ngilu nikmat akibat kuluman dan hisapan itu mulai menjalar naik ke seluruh tubuh ini.

 

Bersambung…